
βDunia ini terlihat indah tapi aku tak dapat melihatnya.β
Pernah melihat tulisan seperti itu? Tertulis di sebuah kertas karton besar di sebelah seorang laki-laki buta yang meminta belas kasihan orang yan lewat di depannya.
Sebuah konten sederhana di sosial media yang berhasil membuat penontonnya terenyuh karena setiap orang yang membaca tulisan itu langsung memberikan sejumlah uang kepada si buta. Padahal sebelumnya tak ada seorang pun peduli padanya. Jangankan memberinya uang, semua orang bahkan seolah tak menganggapnya ada di sana.
Sebuah kisah yang sempat viral di sosial media. Entah itu benar atau hanya sebuah konten, tapi pesan yang disampaikan benar-benar sampai terutama kepada saya yang juga melihatnya. Ada rasa empati muncul ketika seseorang yang buta tidak bisa melihat indahnya dunia karena keterbatasan yang dimilikinya.
Rasa empati yang sama muncul ketika saya melihat sosok Tutus Setiawan. Pemuda asal Jawa Timur yang tak bisa lagi melihat indahnya dunia karena penglihatannya hilang sejak kecil. Bukan. Tutus tidak buta sejak lahir. Pemuda yang mampu menyelesaikan kuliah sampai S2 di Universitas Negeri Surabaya itu lahir dengan kondisi normal. Tapi sebuah insiden kecelakaan terjadi ketika dia duduk di bangku sekolah dasar.
Insiden yang akhirnya mengubah perjalanan hidupnya menjadi gelap gulita. Pria kelahiran Surabaya tanggal 6 September 1980 memilih bangkit untuk menghadapi dunia barunya yang gelap daripada meratapi nasib dan meminta belas kasihan orang lain. Sebuah tekad yang patut diacungi jempol.
Harapan Muncul dari Lentera kecil yang Mulai Menyala

Orang buta bisa apa?
Satu kalimat yang mungkin sering terdengar mencemooh mereka yang tak dapat melihat. Cemoohan yang juga dialami oleh Tutus Setiawan. Pria yang akhirnya menorehkan banyak prestasi itu bahkan mendapatkan diskriminasi di lingkungan tempat tinggalnya.
Bukan Tutus kalau tidak membalasnya dengan banyak kebaikan. Tutus yang tunanetra bahkan unggul dari banyak temannya soal nilai akademik. Ya benar. Tutus sekolah di sekolah SMP Luar biasa dan SMA Kemala Bhayangkari 2 hingga mendapatkan beasiswa.
Dari beasiswa tersebut, Tutus berhasil melanjutkan pendidikan S1 dan S2 di Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Prestasi yang tak pernah disangka semua orang kan. Termasuk Tutus sendiri yang tak mengira jika dirinya mampu berjalan hingga sejauh itu.
Padahal jika dilihat dari data tunanetra yang ada di Indonesia, sedikit sekali yang bisa melangkah jauh bahkan mendapatkan pekerjaan. Diakui atau tidak, penyandang tunanetra banyak mendapatkan diskriminasi bahkan diasingkan.
Lihat saja data yang diambil dari Dinas Sosial DIY. Di wilayah ini saja ada sekitar 2.067 penyandang tunanetra tahun 2024. Lebih banyak dari tahun sebelumnya yang sejumlah 1712 tunanetra. Sementara total penyandang tunanetra di Indonesia dicatat sebanyak 1,5% dari jumlah penduduk Indonesia atau sekitar 4 juta jiwa. Mirisnya, baru 1% saja yang mendapatkan kesempatan untuk bekerja. (sumber : warta.bkkbndiy.id )
Dari data tersebut dapat dilihat bahwa Tutus Setiawan termasuk penyandang tunanetra yang 1% itu dan bisa dibilang beruntung karena akhirnya mendapatkan pengakuan dari masyarakat. Tapi pengakuan itu tidak didapatkannya begitu saja. Ada banyak luka dan perjuangan yang harus dilakukannya untukΒ mendapatkan tempat di hati banyak orang.
Lentera kecil Makin Bersinar Terang diantara Langkah Seorang Tutus Setiawan

Radio Braille Surabaya. Resmi dibuka tanggal 3 Desember 2022 oleh pemkot Surabaya. Bahkan dari berdirinya Radio Braille Surabaya tersebut, pemkot Surabaya akhirnya menggratiskan para tunanetra yang naik angkutan umum di Surabaya.
Siapa sangka jika dibalik munculnya Radio Braille Surabaya itu ada sosok Tutus Setiawan yang berjuang untuk membangunnya. Bersama teman-teman sesama tunanetra, Tutus berjuang memberdayakan kaum tunanetra agar lebih berdaya dan mandiri. Salah satunya dengan menjadi penyiar dari Radio Braille Surabaya.
Langkah Tutus bukan hanya itu. Dengan talenta dan prestasi yang dimilikinya Tutus juga membuat pelatihan jurnalistik Aliansi Jurnalis Independen Surabaya. mendirikan Lembaga Pemberdayaan Tunanetra dan menjadi pengajar di sekolah Luar Biasa Surabaya. Masya Allah banget kan.

Siapa sangka seorang tunanetra bisa melakukan banyak hal positif, bahkan mengalahkan mereka yang masih bisa melihat dunia dengan mata normal. Tak heran jika Tutus Setiawan akhirnya mendapatkan penghargaan Astra SATU Indonesia tahun 2015 yang lalu dalam kategori pendidikan.
Langkah nyatanya menyadarkan kita semua bahwa kita semua bisa berprestasi asalkan ada niat dan usaha yang kita lakukan dengan sepenuh hati. Bahwa manusia diciptakan sama di mata Tuhannya dan berhak mendapatkan perlakuan yang sama pula.
Tutus Setiawan sudah membuka jalan rejeki bagi para tunanetra lainnya. Hasilnya kini tunanetra tidak dipandang sebelah mata lagi. Pemerintah bahkan memberikan tempat bagi para tunanetra untuk ikut berkontribusi bagi pembangunan bangsa. Hal ini bisa dilihat dari terbukanya lapangan kerja bagi tunanetra di instansi pemerintah maupun swasta.
Kesempatan bekerja bagi tunanetra tersebut diungkapkan langsung oleh Bapak Muhadjir Effendy selaku Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan tahun 2023. Disampaikan olehnya, upaya pemerintah dalam memberdayakan penyandang disabilitas dituangkan dalam UU No 8 tahun 2016 tentang penyandang disabilitas. (sumber : kemenkopmk.go.id).
Lentera kecil yang dinyalakan seorang Tutus Setiawan kini semakin bersinar terang. Jalan terbuka lebar bagi tunanetra untuk mendapatkan kesempatan yang sama seperti mereka yang bisa melihat dengan mata normal untuk mendapatkan pendidikan, pekerjaan dan perlakuan yang sama.
Edukasi terus dijalankan. Tutus kini tidak berjalan sendirian. Banyak yang mendukung di belakangnya dan mensupport kinerjanya. Sehingga tunanetra lainnya ikut terinspirasi dan ikut bergerak bersama. Menjadi pribadi yang lebihΒ mandiri dan tidak meminta belas kasihan orang lain adalah kunci keberhasilannya.
Mereka bahkan bisa dikatakan lebih bisa melihat dengan mata batin dan pikiran mengalahkan kita yangΒ bisa melihat dengan mata normal. Jangan diskriminasi lagi ya para tunanetra, tapi gandeng dengan tangan terbuka dalam menyambut dunia yang penuh warna ini. Jika Tutus saja bisa, kita pun harus bisa dong.
Astra SATU Indonesia Award 2015 sudah membuka jalan. Kini saatnya Tutus Tutus lain bermunculan dan ikut berkarya dalam membangun bangsa.
#APA2025-PLMΒ
Referensi :
https://kediripedia.com/setahun-rbs-radio-yang-dikelola-aktivis-tunanetra/
Β
